![]() |
| Tren Terapi Alam: Mengupas Efektivitas Pengobatan Berbasis Herbal dan Nutrisi di Era Modern |
MOJOKERTO, Sabtu, 31 Januari 2026 – Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan holistik kembali meningkat. Terapi alam, yang menitikberatkan pada pengobatan berbasis herbal dan nutrisi, kini bukan lagi sekadar alternatif, melainkan pilihan utama dalam menjaga keseimbangan tubuh dan mencegah penyakit kronis.
Mengapa Terapi Alam Semakin Diminati?
Pengobatan berbasis bahan alami dinilai lebih ramah bagi tubuh jika dilakukan dengan dosis yang tepat. Berbeda dengan pendekatan kimiawi sintetik, terapi herbal memanfaatkan senyawa aktif dari tumbuhan yang telah digunakan secara turun-temurun.
Kunci dari terapi alam bukan hanya pada tanaman obatnya, tapi pada sinergi nutrisi yang masuk ke dalam tubuh, ujar praktisi kesehatan komplementer dari LIHM (Lembaga Informasi Kesehatan Komplementer).
Fokus Utama: Herbal dan Nutrisi Spesifik
Dalam praktiknya, terapi alam mencakup dua pilar utama:
- Fitofarmaka (Herbal): Penggunaan ekstrak tanaman seperti kunyit sebagai anti-inflamasi, jahe untuk sistem imun, hingga temulawak untuk kesehatan hati.
- Nutrisi Terapi: Pengaturan pola makan fungsional yang menjadikan makanan sebagai obat (food as medicine), memastikan tubuh mendapatkan asupan mikro-nutrisi yang dibutuhkan untuk regenerasi sel.
Keamanan dan Regulasi
Meskipun bersifat alami, para ahli mengingatkan pentingnya standarisasi. Di Indonesia, penggunaan herbal harus memenuhi kriteria BPOM dan didukung oleh data empiris yang kuat. Integrasi antara nutrisi yang tepat dan herbal pilihan menjadi kunci keberhasilan terapi komplementer dalam membantu proses penyembuhan medis konvensional.
Kesimpulan
Terapi alam menawarkan solusi kesehatan jangka panjang yang berkelanjutan. Dengan dukungan riset nutrisi yang terus berkembang, pengobatan herbal kini tampil lebih ilmiah dan profesional, memberikan harapan baru bagi masyarakat yang menginginkan gaya hidup sehat secara menyeluruh.

0 Comments